Lebih Mengenal Muhammadiyah

Oleh: Nayif Fairuza*

Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah terus berkembang begitu pesatnya hingga kini. Hal tersebut bisa kita jumpai mulai dari berbagai kajian dari tingkat ranting hingga tingkat pusat, juga adanya berbagai amal usaha, lembaga-lembaga, ortom-ortom yang bernaung di bawah organisasi yang usianya hampir satu abad ini telah menyebar di seluruh pelosok tanah air.
Tidak begitu banyak yang bisa penulis sajikan dalam kesempatan kali ini, hanya selayang pandang Muhammadiyah yang ditinjau melalui aspek histori, organisasi dan ideologi.
Masih terbersit dalam ingatan penulis ketika masih sekolah di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogkarta. Semasa masih duduk di bangku tsanawiyah, tiga aspek inilah yang diajarkan dalam meteri kemuhammadiyah sebagai langkah awal untuk mengenal Muhammadiyah.

Aspek Historis
Muhammadiyah didirikan di kampung kauman Yogyakarta pada 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan 18 November 1912 M oleh KH. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah sendiri dikenal sebagai salah satu gerakan yang menghembuskan nilai-nilai tajdid (pembaruan) pemikiran Islam juga bergerak di berbagai bidang kehidupan umat. Nama Muhammadiyah sendiri diambil dari nama Nabiyullah Muhammad –shalllahu ‘alaihi wasallam- dan ditambah dengan “ya’ nisbah”. Maksudnya secara perseorangan, siapa saja yang menjadi warga dan anggota Muhammadiyah dapat menyesuaikan dengan pribadi Nabi Muhammad –shallahu ‘alaihi wasallam-.
Dari beberapa sumber yang penulis dapatkan, ada beberapa hal yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah, antara lain: (a) sosok seorang Muhammad Darwis (nama kecil KH. Ahmad Dahlan) itu sendiri; sejak kecil beliau memang telah dikenal sebagai seorang yang cerdas dan mempunyai nilai spiritual yang tinggi. Hal itu tercermin ketika beliau dengan tegas dan berani membenarkan arah kiblat yang tadinya menghadap kearah barat, juga ketika beliau sempat berguru kepada kyai-kyai yang ada di tanah Jawa untuk menuntut ilmu, (b) situasi negara Indonesia yang masih berada dalam masa pemerintahan kolonial Belanda; faktor yang satu ini juga tak bisa dipungkiri untuk menjadi salah satu faktor terpenting dalam kacamata historis kelahiran Muhammadiyah. Sudah sangat mafhum jika suatu penjajah masuk selain menjajah tentunya ingin memasukkan budaya-budaya mereka juga, tak terkecuali tujuan utama mereka yaitu gold (emas), glory (kemenangan) dan gospel (agama). Tidak hanya itu, perlu diketahui bersama bahwasanya mayoritas yang memperjuangan dalam memperebutkan kemerdekaan adalah umat Islam, dalam hal ini Muhammmadiyah sebagai organisasi Islam tentunya terdorong untuk mewujudkan hal tersebut, (c) realitas sosio-agama di Indonesia; jika kita mengkaji sifat dakwah Muhammadiyah tentunya akan kita temukan dua hal, yang pertama kedalam dan yang kedua keluar. Maksud dari yang pertama adalah dakwah kepada umat Islam itu sendiri. Bagaimana? Yaitu dakwah yang bersifat purifikasi (pemurnian) dari hal-hal yang menyimpang, seperti TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat. Baca: Khurafat). Mengingat masyarakat jawa pada umumnya dan Jogja pada khususnya pada waktu itu yang masih kental sekali pengaruhnya oleh budaya Islam kejawen, sedangkan maksud dari yang kedua adalah dakwah kepada mereka yang non islam dengan adanya ajakan dan seruan kepada Islam (d) realitas sosio-pendidikan; dimaksudkan dalam hal ini adalah kondisi pendidikan negara Indonesia pada waktu itu (mungkin hingga kini) yang masih sangat memprihatinkan, dengan adanya dikotomi strata sosial menjadikan penduduk pribumi kurang layak untuk mendapatkan pendidikan yang selayaknya. Tidak hanya berhenti sampai disitu, keinginan kuat KH. Ahmad Dahlan untuk memaju dan mengentaskan masyarakat dari belenggu keterbodohan dan ketertinggalan dengan mengadopsi atau istilah tepatnya menggabungkan antara materi pelajaran agama dengan umum, walaupun hal tersebut belum mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat kauman pada waktu itu.

Aspek Organisatoris
Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi masyarakat yang bergerak dalam berbagai bidang kemasyarakatan, mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, budaya dan lain-lain. Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan Muhammadiyah yang semakin berkembang ini menunjukkan sikap Muhammadiyah yang semakin dewasa dan terstuktur secara rapih. Dengan adanya ranting-ranting Muhammadiyah di perkampungan dan pedesaan diharapkan Muhammadiyah bisa menjadi solving problem bagi umat. Begitu pula dengan cabang-cabang Muhammadiyah di tingkat kecamatan yang membawahi ranting-ranting dan daerah-daerah Muhammadiyah ditingkat kabupaten yang membawahi cabang-cabang hingga wilayah-wilayah Muhammadiyah ditingkat wilayah yang menaungi daerah-daerah dibantu dengan majelis-majelis, lembaga-lembaga.
Begitu sistematis, rapih dan dewasa Muhammadiyah telah mengabdikan dirinya untuk umat. Apakah samapai disitu? Saya katakan “Tidak berhenti sampai di situ saja”, Muhammadiyah juga mewadahi bagi kadernya yang ingin berkreasi melalui ortom-ortomnya. Di dunia pelajar terdapat Ikatan Remaja Mumhammadiyah yang sekarang kembali menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah, mahasiswa dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyahnya, pemuda dengan Pemuda Muhammadiyahnya, kepanduan dengan Hizbul Wathannya, pencak silat dengan Tapak Sucinya, keputrian terdapat Nasyiatul ‘Aisyiyah dan ‘Aisyiyahnya.
Adapun badan pembantu pimpinan meliputi majelis-majelis dan lembaga-lembaga dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan masing-masing pimpinan.

Aspek Ideologis
Dalam aspek yang terakhir ini, kita akan mengenal lebih dekat Muhammadiyah melalui dua landasan, yaitu landasan normatif dan operasional. Akan tetapi sbelum kita mengarah jauh ke arah sana, penulis akan menerangkan terlebih dahulu tentang identitas perjuangan Muhammadiyah.

1. Identitas Perjuangan Muhammadiyah.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi munkar tentunya mempunyai pedoman hidup yaitu al-Qr’an dan as-Sunnah, sebagaimana yang tercantum dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah. Namun pada dataran praktiknya Muhammadiyah tidak hanya sebagai garakan Islam dan dakwah melainkan pula sebagai gerakan tajdid.
Oleh kerenanya, ketiga identitas tersebut mejadi lokomotif utama dalam menjalankan misi dan perjuangan Muhammadiyah.

2. Landasan Normatif Muhammadiyah.

Landasan Normatif bagi pelaksanaan dan aktivitas meliputi tiga hal ;
– Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM)
MADM sendiri memuat tujuh pokok pikiran, yaitu;
Pertama, hidup manusia harus berdasar Tauhid Allah, bertuhan dan beribadah serta tunduk dan taat hanya kepada Allah.
Kedua, hidup bermasyarakat merupakan sunnatullah.
Ketiga, hanya dengan hukum Allah tata kehidupan sosial dapat berjalan dan berkembang secara positif.
Keempat, penempatan Islam sebagai sumber hukum tertinggi merupakan kewajiban manusia.
Kelima, agama Islam adalah agama seluruh utusan Allah, yang mana pengamalannya dengan ittiba’ Rasul.
Keenam, organisasi merupakan alat realisasi ajaran Islam dalam hidup sosial.
Ketujuh, tujuan dan cita-cita hidup Muhammadiyah adalah terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur, yang diridhai Allah –subhanahu wa ta’ala-
– Kepribadian Muhammadiyah.
Kepribadian adalah ciri dan sifat-sifat khas Muhammadiyah yang merupakan manifestasi dari jiwa dan semangat Muhammadiyah. Matan rumusan Kepribadian Muhammadiyah meliputi empat hal:
> Apakah Muhammadiyah itu?
> Dasar Amal Usaha Muhammadiyah.
> Pedoman Amal Usaha dan Perjuangan Muhammadiyah.
> Sifat Muhammadiyah.
– Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM)
MKCH sendiri memuat tiga hal pokok yang sebelumnya memuat lima hal yang ditetapkan dalam sudang tanwir di Ponorogo pada tahun 1969 yang kemudian direvisi pada tanwir di Yogyakarta pada tahun 1970 :
Pertama, mengandung pokok-pokok persoalan yang bersifat ideologis, seperti keyakinan bahwa Islam adalah agama yang benar disisi Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa hingga Nabi pemutup, Muhammad –shallahu ‘alaihi wa sallam-.
Kedua, mengandung persoalan menganai faham agama menurut Muhammadiyah; Muhammadiyah mengamalkan ajaran agama Islam berdasarkan al-qur’an dan as-Sunnah. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang: aqidah, akhlak, ibadah, mu’amalat duniawiyah.
Ketiga, mengenai fungsi dan misi Muhammadiyah dalam masyarakat Negara Republik Indonesia.

3. Landasan Operasional Muhammadiyah.

Landasan operasional merupakan pijakan bagi persyarikatan Muhammadiyah dalam menjalankan aktivitas-aktivitasnya guna mencapai maksud dan tujuan. Adapun landasan operasional Muhammadiyah meliputi:
> AD/ART Muhammadiyah, yang mencakup 17 subsisterm yang terdapat dalam pasal 3.
> Khittah Perjuangan Muhammadiyah, yang di dalamnya meliputi: (a) Hakekat Muhammadiyah, (b) Muhammadiyah dan Masyarakat, (c) Muhammadiyah dan Politik, (d) Muhammadiyah dan Ukhuwah Islamiyah dan (e) Dasar Program Muhammadiyah.
Visi dan Misi Muhammadiyah.
> Keputusan-keputusan Muhammadiyah.**

Demikianlah selayang pandang Muhammadiyah yang ditinjau dari segi histori, organisasi dan ideologi. Semoga wawasan di atas dapat menjadikan kita lebih mengenal Muhammadiyah libih dalam dan semoga kita dapat menjadi pelangsung dan penyempurna organisasi yang sudah berusia hampir satu abad ini…

____________________________
*) Mahasiswa Kuliah Dakwah Islamiyah tingkat II, juga menjabat sebagai bendahara PCIM Libya periode 2007-2009
**) Dirangkum dari buku Studi Kemuhammadiyahan LPID.

Sumber : https://pcimlibya.wordpress.com/

1,134 total views, 5 views today

About agungbairianto agung 1 Article

Agung Bairianto : Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 03 Cileungsi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*